NASIB PARA “VOKALIS” ALIAS WHISTLEBLOWERS

Yusuf bin Jussac**
Banten – INDONESIA

Dipersoalkan loyalitasnya kepada partai; motif manuver pribadi; jumlah uang suap kurang besar; dan diperalat kekuatan lain untuk menjelekkan citra PDIP (emang citra Lo bagus?). Itulah label yang dituduhkan oleh elit PDIP, terhadap dua kadernya di DPR yang baru baru ini mengungkapkan praktik suap BPPN menyangkut divestasi Bank Niaga.
Pers pun dilecehkan. Seorang fungsionaris PDIP menyayangkan tindakan dua rekannya telah mengungkapkan kasus suap itu kepada kalangan Pers. Orang itu berkilah, dua mitranya itu seharusnya melaporkan kasus suap tsb kepada fraksi — bukan kepada wartawan.
Jadi di mata orang PDIP Orba-is itu, Pers tidak berkompeten ngurusin persoalan itu. Posisi Fraksi dan/atau DPP Banteng “beri beri” – eh keliru – gemukkah itu atau pendapat pribadi ybs? Penulis cenderung meyakini itu cerminan posisi baku DPP PDIP. Cerminan arogansi institusi ciri khas kalangan “Orba-is” sipil/non-sipil, yang manakala dihadapkan sitkon serupa serentak berkilah: “Ini persoalan internal organisasi / lembaga!”.
Semangat salah kaprah meng-kompartementalisasi-kan diri itu (sindrom “they against us”), ciri khas TNI dan seabrek unit khas di dalamnya. Lembaga pemerintah non-militer pun terkontaminasi arogansi yang sama. Dua bulan yl, ratusan karyawan sebuah kantor pemerintah di kawasan Blok-M melakukan unjuk rasa, menuntut perbaikan/kejelasan status kerja mereka.
Gerbang komplek kantor itu ditutup rapat rapat. Bukan hanya pers, bahkan aparat POLRI, diblokir DILARANG memasuki halaman kantor. Penjelasan pejabatkantor itu, “Ini urusan internal.” Meskipun tidak secara spesifik berapologia Orba-is seperti itu, fungsionaris Fraksi PDI di atas pada dasarnya terjangkiti arogansi yang sama. Mereka pikir, mereka negara di dalam negara!
Sungguh absurd, berbagai kasus yang menyentuh langsung “public concern”, selalu diklaim urusan internal yang tidak boleh diketahui publik termasuk kalangan pers! Namun di pihak lain, manakala survivalsuatu lembaga terancam atau terganggu, para personil di dalamnya mendadak nyaring menyanyikan sebuah kebersamaan. Semangat kebangsaan pun dicatut/dimanipulasi.
Contoh: di era ORBA dipopulerkan credo “Manunggalnya Rakyat dan ABRI”. Tetapi di banyak wilayah, warga sipil terus diinjak injak HAM-nya. Keberingasan unsur di dalam Yon-Gab TNI di zona konflik Ambon adalah contoh paling mencolok. DOM dan neo-semi DOM di Aceh, apalagi! Sedangkan PDIP paling gemar mendaku (mengklaim) partai wong cilik. Mereka juga ikut merengek, bahwa parpol tetap perlu didanai pemerintah. Ngapain mereka nggak berprofesi badut saja?
Di Amerika “orang dalam” yang melakukan expose praktik tercela seperti itu (suap-KKN-pembunuhan politis dll) disebut Whistleblower. Peniup peluit, “Vokalis” pengungkap borok internal organisasinya sendiri. Bahkan di Israel oleh seorang perwira MOSSAD yang kemudian membelot!
Wistleblowing juga dilakukan kalangan eksekutif, praktisi media massa (”Jihad” against Fox TV, versus pembredelan atas investigative reporting skandal hormon rBGH berbahaya bagi manusia di seluruh susu sapi A.S., termasuk seluruh produk sampingan susu sapi di sana seperti keju, es krim, yogurt dll); aparat Federal FBI, DEA dan CIA (skandal “Iran-Contra Gate” diekspos oleh Al Martin, Webmaster http://www.antiwar.com) dan berbagai skandal lain.
Nasib mereka? Ada yang dibiarkan bebas merdeka seperti Al Martin, tetapi tidak sedikit yang “dilenyapkan” seperti dua bekas Direktur CIA William Casey dan William Colby. Yang pertama mati secara “wajar”, sedangkan Colby di-tewas-kan tenggelam di laut ketika sedang memancing!
Salah satu dari bekas boss CIA itu mati, sebelum sempat memberikan testimoni di Kongres A.S., berkaitan niatnya membantu Kennedy, Jr. membongkar komplotan jahat pembantai ayahnya di Dallas, Texas. Ketika terjadi pembantaian Presiden Kennedy, George Bush senior direktur CIA.
Warren Committee, yang dibentuk Kongres A.S. untuk mengungkap konspirasi jahat pembantaian Presiden Kennedy itu, tidak lebih daripada Pansus badutan.
Jelas, Kennedy tewas dihajar peluru dari tiga penjuru di Dallas, kok dibilang Pansus itu dibunuh “lone assassin”. Begitu pula atas adiknya, Jaksa Agung Bob Kennedy, yang ditembak di dapur sebuah hotel! Juga MLK, Dr. Martin Luther King, tokoh anti kekerasan berkulit hitam.
Kennedy, Jr. akhirnya “dilenyapkan” Penguasa Bayangan A.S. (”The Handlers”). Pesawat pribadinya diledakkan di udara! Terlampir, di akhir tulisan ini, artikel oleh pembangkang Sherman Skolnick mengenai kasus itu. Rakyat Amerika dibuat numbed terus menerus oleh teror macam itu, yang SELALU diotaki Super Teroris CIA dan intelijens angkatan bersenjata (Chemtrails, Bio-attack, West Nile, Anthraks, dll). Sebab ketakutan massal mempermudah penguasaan atas mereka vis-a-vis musuh bersama (common enemy) yang sengaja diciptakan. Saddam, Osamah, dll.
Begitu pula nasib Menteri Angkatan Bersenjata A.S. pertama di era awal Perang Dingin, James Forrestal. Ia berbenturan dengan Presiden Truman, menyangkut apa yang ia yakini sebagai sikap lemah A.S. terhadap tekanan Uni Soviet. Truman maupun pendahulunya, Roosevelt, ia amati terlalu “memberi angin” (konsesi) kepada Soviet. James yakin pemerintahnya sejak era Roosevelt telah diinfiltrasi oleh agen Komunis Soviet. Komunisme dan Kapitalisme anak kembar Illuminati.
Menyikapi fenomena itu, James menyatakan quote “These men are not stupid. They are crafty and brillian. Consistency has never been a mark of stupidity. If they were merely stupid, they would occasionally make a mistake for our favor.” end quote. Maksud dia, para boss dan mitranya di Kemlu, Pentagon, dan Gedung Putih.
James menentang keras kebijakan luar negeri A.S. mengikutsertakan Uni Soviet dalam perang melawan Jepang. Ia juga menentang kebijakan Jenderal Marshall, yang memaksa Chiang Kai-shek berkoalisi dengan Cina Komunis (kubu Mao Tse Tung cs).
James secara sengit menentang Kemlu yang hendak memberikan Mediteranen sebagai wilayah pengaruh Uni Soviet. Sikap kerasnya itu, “mengkritisi” dan memblokir kebijakan pro Soviet, jelas mengundang kedengkian seluruh kubu Komunis di Amerika dan Eropa. James menjadikan dirinya “martir”, sasaran tembak (sitting duck) mereka.
Direkayasa berada dalam tekanan emosional berat itu, James diminta Presiden Truman agar lengser dari jabatan Menhan. Akhirnya, James tetirah (”retreat”)ke Florida, menjauhi Washington, D.C. Ternyata, ia terus dimata-matai, telpon rumahnya disadap oleh agen agen Washington, D.C.
Sebelum ia pergi ke Florida, catatan hariannya – 15 “map” besar 3000 lembar – berisi nama dan jatidiri jurnal, orang orang dan organisasi/lembaga yang telah disusupi Komunis Uni Soviet; seluruhnya disita dari ruang kerjanya di Pentagon dan ditahan di Gedung Putih (Thank God, Penulis sudah berbagi the DRAFT dengan banyak pihak; in case di-James-kan Draft TEXMACOGATE itu bakal bikin gonjang ganjing).
Limabelas bulan sebelum terjadi Perang Korea, ia menyatakan kepada seorang kawannya, bahwa A.S. bakal “dikadali” Komunis (Soviet & Cina); dan bahwa ribuan tentara Amerika bakal mati sia sia di Semenanjung Korea. Jadi James telah mencium gelagat, bahwa penguasa bayangan di atas (Komunis di Eropa dan A.S.) telah merencanakan perang saudara di Korea itu 15 bulan sebelum perang itu dimulai!
Rings a bell? Cermati serangan A.S. ke Afganistan dan Irak. Begitu pula malapetaka “teror” gedung kembar WTC dan “PentaGONE” 9-11. A well-planned plot stigmatisasi ISLAM sebagai ULTIMATE, common enemy yang harus dilibas tuntas!
Cermati pula insiden berdarah 27 Juli 1996 (95?) di Menteng atas markas PDI. Sebuah tabloid Islam (sudah mati) mengungkapkan (tahun 2000), seorang aktivis PDIP (Batak) sangat gusar terhadap sikap membisu Megawati menyangkut insiden berdarah itu.
Dinyatakan oleh aktivis itu bahwa Megawati TAHU serangan itu akan digelar! Kini kaitkan “prior-knowledge” Megawati, dengan sikapnya ngotot mendukung pencalonan kembali Gubernur Jakarta Sutiyoso; pejabat yang ketika di Mabes ABRI diyakini terlibat peristiwa berdarah itu. For sure, Megawati is NOT stupid, seperti halnya para mitra dan boss James Forrestal di atas vs. Konspirasi Komunis (hei, jangan bicara ngaco, bahwa Komunis sudah mati! Tengok RRC, Kuba, Vietnam, dan Korea Utara).
Kembali pada James, ia direkayasa harus di-rumahsakit-kan di RSAL Bethesda di Maryland. Meskipun ia tidak lagi menjabat Menhan, Gedung Putih ngotot bahwa ia perlu mendapat perawatan medis oleh negara. Ketika dokternya, Dr. Raines, ditanya abang James – Henry Forrestal – tentang kondisi kesehatan James, Dr. Raines menjelaskan bahwa James sehat dan membaik, siap keluar dari RSAL dekat Beltway itu.
Upaya Henry, enam kali, menjenguk James diblokir RSAL. Begitu pula rencana mengatur pertemuan James dengan pendeta di keluarganya, Monsignor Maurice S. Sheehy. Semuanya diblokir secara sistematis. Ciri khas Opsus kalangan intel sinting!
Henry memutuskan mengambil James dari RSAL untuk dibawa mudik. Rencana itu ia beritahukan kepada RSAL via telpun. Apa yang terjadi? Beberapa jam sebelum ia menuju RSAL diberitahu, bahwa abangnya mati. James ditemukan tewas, di satu teras lantai tiga RSAL, akibat meloncat dari jendela lantai 16 kamar RSAL. Di lehernya masih terikat tali/kabel dalam posisi “tali mati”. Keterangan RSAL dan koroner, James sengaja mengakhiri hidupnya akibat stress!
Isu murahan RSAL (Gedung Putih) itu, ditolak Henry dan pendetanya. Ngapain bunuh diri? Wong James Forrestal quote “… has no financial worries. He has no personal worries. He was basically in good health.” end quote. Stress akibat kehilangan jabatan? Tidak juga, sebab sudah menjadi niat James akan pensiun diri, dan menulis buku mengekspos Konspirasi di atas. No wonder, 3000 lembar catatan hariannya disita Pentagon dan Gedung Putih. Sebab James Forrestal berniat “menyanyi”.
James Forrestal, eks Menteri Angkatan Laut A.S. (April 1944) dan akhirnya Menhan (September 1949), dinilai membahayakan lingkungannya — lingkungan korup, penjual kedaulatan Amerika kepada Komunis. Maka James HARUS dilenyapkan! Modus Operandi Opsus kalangan intelijens sinting di manapun di bumi. Begitulah nasib para Whistleblowers, seperti para nabi – dikucilkan, diteror, dan DIBUNUH (read Qur’an, Doel)!
Akibat rekor buruknya di masa lalu, dan kini (dalam Opsus Super Rahasia MK-Ultra “mind control”; Mockingbird infiltrasi terhadap Pers; War On Drugs dagang ilegal narkoba dan senjata, dan kini War on Terror – maka selain diplesetkan sebagai “Coccaine Importing Agency”, CIA lebih cocok diartikan “Crooked, Incompetent Agency” (baca: THE BUSH – CHENEY DRUG EMPIRE). Bush, Jr. was, and IS bandit!
Konyol, petinggi NKRI menyebut CIA bagian dari A.S. negara sahabat kita! Sahabat mbahmu, jenderal! CIA ngobok obok terus, kok disahabati. Kampanye murahan War on Terror oleh Bush bin Bush dan kroninya, ditelan mentah mentah pula.
Islam dibidik lagi (kampanye ANTI Islam). Cover Story TIME magazine, tentang Jaringan Al-Qaeda di NKRI, dijadikan acuan (meski dibantah SBY). Ngapain kerjaan wong BIN di beberapa KBRI besar? Shopping, mancing, ngerumpi, cengengesan bergolfing ria. Mending, mereka fasih berbahasa Inggris.
Yang mampu ngomong Mandarin, bisa dihitung dengan jari. Lha, wong ada, “perwira” BIN yang tak becus ngomongInggris. Apalagi hard languages, seperti Mandarin, yang Penulis meski ada darah Cina (Tjoa Gin Sing alias KRT Setjodiningrat) juga kagak bisa baca dan bicara Mandarin! Pantesan, dulu, ketika Penulis masih di slta, Jussac MR memaksa Penulis kursus bahasa Mandarin. Katanya, “Suf, semua orang bisa berbahasa Inggris. Kursuslah Mandarin!” “Emoh, Dad.”
Jawab Penulis saat itu. “Father knows best”, kata orang Amerika. Sekarang tempat kursus bahasa Cina, utamanya Mandarin, menjamur di DKI. But he was incorrect when he said, bahwa semua orang kita mampu berbahasa Inggris. Lha gimana, wong masih ada, diplomat RI yang berjenjang Minister Counselor pun ora becus bikin makalah/pidato dalam bahasa Inggris! Padahal, “gajinya” di luar negeri minimal US$ 3,5 ribu/bulan – Tax Free lagi!
Eks Menhan di atas dilenyapkan, begitu pula Paus Johanes Paulus 1, beliau dilenyapkan komplotan super jahat Mafioso dan elit Vatican, berkaitan dengan upayanya mengungkapkan SKANDAL di Vatican. Ia diracun arsenik, jasadnya tidak diotopsi, organ vital di tubuhnya (jantung) disembunyikan oleh para elit Vatican! Nggak percaya?
Silahkan baca: IN GOD’S NAME, An Investigation Into the Murder of Pope John Paul 1, oleh David Yallop, terjual 5 juta copies. Edisi dalam bahasa Indonesia, ATAS NAMA TUHAN, diterjemahkan Jussac MR (dicetak 5000 buku), “diborong habis” alias diberangus – oleh agen agen Jesuit? — di Yogya 12 tahun yl. Damn stupid, masih ada tiga bukunya, dan siap dicetak ulang! Mau mborong lagi, 150 ribu copies? Go ahead.
Congressman Larry McDonald, bernasib jauh lebih buruk. Jasadnya sirna bersama ratusan penumpang KAL 007, ketika 1 September 1983 Flight 007 KAL dihajar rudal udara-ke-udara pemburu MiG Uni Soviet, di atas wilayah Timur Jauh Uni Soviet. Ia Congressman bernurani, Patriot Amerika gigih membongkar jaringan rahasia Komunis KGB di kalangan pejabat Federal A.S. (kunjungi http://www.thenewamerican.com).
Sedangkan beberapa Agen Federal yang nyanyi tentang kejahatan institusinya (DEA, FBI), juga CIA dalam skandal “War on Drugs”, kini jadi tahanan politik Pemerintah Federal A.S. Kehidupan keluarga mereka dihancurkan secara sistimatis, kariernya tammat. John O’Niel, veteran 30-tahun FBI, pemburu jaringan Al-Qaeda (yang oleh Bush cs dan Tonny Blair didakwa tanpa bukti sebagai otak teror WTC), jadi abu di salah satu gedung kembar WTC. Poor John O’niel.
Kurang dari 15 hari sebelum bencana WTC 9-11, dalam satu acara konperensi di Florida, ia “kehilangan” Laptopnya berisi dokumen FBI yang ternyata bukan classified. Sebelum malapetaka WTC, insiden kecil di Florida itu di-ekspos Harian kondang di Washington, D.C. John O’Niel akhirnya “terpaksa” mengundurkan diri dari FBI, jadi Kepala Satpam WTC — dua minggu sebelum ia hancur lebur jadi abu di gedung kembar itu! Hanya orang dungu tercuci otaknya, yang menganggap akhir hidup O’Niel di gedung kembar itu sebagai rangkaian fenomena kebetulan belaka.
Upayanya sangat gigih, selaku maestro Counterintelligence FBI, mengungkapkan jaringan Osamah bin Laden di Yaman diblokir oleh Dubes A.S. di Sana’a Ibukota Yaman. John meyakini, Osamah bin Laden mitra bisnis keluarga Bush senior; utamanya bisnis BBM. Maka para baron BBM A.S. kroni keluarga Bush, termasuk UNOCAL, merasa terancam oleh kiprah John O’Niel membongkar kaitan bisnis keluarga Bush cs. dengan Osamah bin Laden. Siapa Presiden Afganistan kini? Mantan petinggi UNOCAL.
Malapetaka WTC 9-11 sudah dipersiapkan “Penguasa Bayangan” Amerika dan Inggris sejak lama, antara lain, dengan menciptakan beberapa “kebetulan” berkaitan dengan orang orang yang dalam waktu hanya dua hari paska WTC 9-11; didakwa sebagai pembajak pesawat dalam peristiwa itu (Mohammad Atta, dll). Dan nyaris seluruh media cetak dan elektronik utama di A.S. menyajikan “analisis” serupa. TV swasta di NKRI pun, utamanya M***O dan I******R, membeo-bebek pula. Publik dibodohin melulu. Toblas!
Lagu lama, mereka dicekoki agen agen CIA, dan Gedung Putih kini tempat tinggal cucu Prescott Bush, konglomerat yang memasok NAZI dengan “punching card” IBM. Bahan gas kimia mematikan Zyklon B (untuk ngegasin ratusan ribu Yahudi tidak berdosa) dipasok kartel petrokimia I.G. FARBEN, bagian dari bisnis global dinasti Rockefeller. Baca, WHO FINANCED HITLER?,dan BAKAR buku buku “sejarah” dunia milik anda!
Menyangkut kekuasaan dinasti Rockefeller atas nyaris seluruh Presiden A.S., ketikkan di mesin pencari http://www.Google.com, “Rockefeller in the White House”. Para presiden itu, kecuali Kennedy dan Abraham Lincoln, cuma wayang doang, sadariman (orang bayaran) budak kepentingan para baron FEDERAL RESERVE, TNC dan BBM Barat (Inggris & A.S.). Bisnis I.G. Farben dan STANDRAD OIL didanai Wall Street di Manhattan, New York City.
OSS, Office of Strategic Service, cikal bakal dinas rahasia CIA, “diawaki” para bekas perwira “SS” NAZI Jerman! No wonder, bukan? CIA dan Gedung Putih berperilaku khas Fascists! Siapapun berani menghalangi global onslaught mereka merealisasikan “Tata Dunia Baru” (New World Order) — via boneka Perserikatan Bangsa Bangsa – disikat habis! Termasuk Muslim sedunia.
Bencana WTC 9-11 merupakan “trigger” grand design peluncuran New World Order, sebuah CommOnism (diawali paradigma CommUnism – “sama rata, sama rasa” palsu!). Kristen, Islam dan seluruh agama samawi bakal dieliminasi, tinggal satu “agama global” dipimpin the United Nations. Be smart, waspadai grand design itu.
Sementara itu, menyangkut peledakan Gedung Federal Alfred P. Murrah di Oklahoma 1996, independent investigators (jurnalis dan kolumnis “pembangkang”) juga menemukan dari saksi saksi kunci; peledakan yang dituduhkan FBI dilakukan MacVeigh juga diotaki CIA dan FBI. Seorang polisi kulit hitam setempat jadi saksi kunci kasus itu.
Nasibnya? Ia dipermalukan (rekayasa FBI) sebagai pengacau/pendusta, rumah tangganya dibuat berantakan, cerai dengan istrinya, akhirnya “bunuh diri” menembak kepalanya sendiri! Such a convenient death bagi komplotan jahat global di atas.
Konspirasi bukan teori, IT IS REAL, sedang digelar, di seluruh lini kehidupan! Budaya lokal dilibas “budaya” ngak-ngik-ngok via MTV milik baron Zionis! Badan dan organ tubuh manusia dirusak pula, via produk produk obat-obatan, minuman dan makanan (produk pertanian, susu sapi, keju, minuman ringan dll) pakai bahan kimia MONSANTO, King of Kings TNC penguasa produk Transgenik atau Terminator Seeds!
Ultimate goal-nya, menciptakan global enslavement. Salah satu caranya, LUCUTI warga sipil di seluruh muka bumi (dari kepemilikan senjata api sah). Sejarah membuktikan, pemusnahan massal selalu dan selalu diawali pelucutan Senpi!
Hampir 20 juta ummat Kristen Ortodoks, di Russia, dibantai kaum Bolsheviks, “kaum proletar” yang < 85 persen “diawaki” kaum Zionist sesat (Talmudic) dan didanai Jacob Schiff, Konglomerat Zionist di New York (catat: tidak seluruh Yahudi adalah Zionists)! Ratusan tentara Israel, kini jadi Refuseniks menentang agresi Israel terhadap bangsa Palistina.
Law abiding citizen yang waras pun, bukan berjiwa koboi, dilucuti semua. Tetapi manakala ada (LAGI!) unsur sinting di TNI – seperti anggota LINUD 100 Medan – merengsek, menyerang markas POLRI dan nembakin Polisi – it was a mere “kesalah-pahaman”. Edan! Nyerang POLRI kok dianggap lumrah! Benar benar prajurit sinting!
Wong kawannya ditangkep Serse Medan, akibat bawa ecstacy, kok tentara gemblung itu menuntut agar dibebaskan. Emang NKRI negeri “Kompeni”? GILA! Sekelompok “Kumpeni” Yon LINUD 100 itu, bahkan menggeranat pos POLRI! Tujuh Polisi GUGUR! With all due respect, General Ryamizard, prajurit perusak citra TNI macam itu, sebaiknya di-dor saja! PangDam Idris Gassing (hei, dude, we briefly met in 1978 ) GAGAL mendisiplin unsur brengsek Batalyon itu!
Para prajurit SINTING itu HARUS dipecat dan diadili. Polisi direcokin melulu. Emang BRIMOB teroris? Mas Jenderal SBY, belasan anggota Batalyon itu lebih pantas disebut TERORIS tulen! TEMBAK MATI itu tentara penggeranat pos POLRI! Itulah akibat lulusan sltp, maksimal slta, diberi kekuasaan pegang senjata api, peledak, dan geranat! Prajurit sinting!
Kembali ke isu bom Oklahoma, beberapa penyelidik independen menemukan, bom Oklahoma itu ada “signature” bom buatan pabrik bom (”front factory”) didanai CIA, yakni B.R. Fox Company, yang oleh Presiden Johnson disebut “Murder Inc.” Kaitkan itu dengan gudang bahan dasar kimia pembuat bom/ peledak, yang ditemukan jajaran Serse POLDA Agustus 2002 di wilayah Tangerangdengan kasus bom di Jakarta.
Pabrik bom CIA di atas, kemudian dipindah ke wilayah Karibia. Sedangkan Terusan PANAMA, kini dikuasai PLA (TNI-nya RRC). Bahan kimia di Tangerang itu buatan RRC. Nah! Tuan Tuan di BIN, be smart, “otak-atik” lah kaitan itu.
Agen agen CIA di NKRI, hadir berkedok (menyaru) sebagai diplomat bidang politik/ekonomi/pers attache (sebagai “cover”), ada juga sebagai reporter, dan seperti Agen MOSSAD di NKRI menyamar juga sebagai pebisnis Eropa dan bangsa kulit putih lain. Dan sebagai “Teroris” etnis Arab! “Super Agent” MOSSAD mampu berbicara bahasa Arab secara fasih tanpa aksen (baca: EVERY SPY A PRINCE).
WHISTLEBLOWERS DI NKRI
Bagaimana dengan pemberangusan para Whistleblowers di NKRI? Deretan panjang kematian misterius beberapa tokoh nasional, kini ditenggelamkan kasus kasus baru-terkini. Ingat “kecelakaan” mobil (di Mesir?), yang dialami tokoh Nahdliyyin reformis Subhan Z.E.? Juga Jaksa Agung Baharuddin Lopa di Saudi Arab? How about Hamdun?
Masih ingat “Skandal” Mega-Milyar di KOSTRAD, yang dua tahun laludiekspos oleh PangKostrad AWK? Jenderal “santri” yang dicap kontroversial itu, mendadak juga “wassalam” akibat — menurut penjelasan “resmi” yang digulirkan — tekanan darah tinggi. AWK wafat ketika berstatus no more PANGKOSTRAD.
Only GOD knows, penyebab sesungguhnya “AWK’s untimely demise” itu. “Untimely death”, sebab almarhum tidak mengidap “jantungan”. Jenderal jantungan
tidak bakal dipromsikan jadi Panglima KOSTRAD. Amati Jenderal Ryamizar yang kini KASAD; gagah perkasa selalu tampil on top form. Wow, calon
PANGLIMA TNI. Good luck lah, General.
Dibungkam, di-blackmail (pemerasan politis dan/atau seksual), diteror mental, dipecat dari kantornya, diisolir, diboikot (dari “nyanyi” menulis kisah nyata di media cetak), dan paling buruk “dilenyapkan” – merupakan modus operandi Organisasi/Pemerintah Bayangan di manapun di dunia terhadap “Vokalis” seperti itu. Singkatnya, “suppressing the truth”, alias pemberangusan upaya SAH mengungkapkan berbagai praktik busuk internal organisasi/ kelompok politik/bisnis dan birokrasi.
Bukan tak pernah, Opsus seperti itu digelar mengatasnamakan “Keamanan Nasional”. Dalam kasus suap oleh BPPN, elit DPP Banteng overweightjelas kebakaran jenggot. Sebab jika kasus itu dibongkar tuntas, nampaknya bakal menguak kasus kasus suap serupa oleh pihak pihak lain kepada segelintir elit PDIP.
Dalam pada itu, Penulis lupa Komisi mana di DPR yang menangani (V atau IX?), namun jelas membahas Pre-Shipment Facility Bank Indonesia kepada TEXMACO group. Kasus itu menjelang akhir 1999 digulirkan Menneg BUMN Ir. Laksamana Sukardi.
Orang yang tidak dungu bakal bertanya tanya, faktor apa pula yang memotivasi Komisi itu (dalam Sidang sesi terakhir kasus itu 3 Juli 2000) memutuskan “Case Closed”. Artinya, TEXMACO “clear”. Kasus itu disudahi. Dan Ir. Laks pun gigit jari.
Sedangkan pakar ekonomi, seperti Sri Mulyani, PhD., Koordinator Indonesian Corruption Watch/ICW Teten Masduki, dan Menteri Kwik Kian Gie, dll (kelompok pengeritik “deal” tertutup antara BPPN dan elit TEXMACO) — mendapat label sebagai Konspirator jahat bermaksud menghancurkan TEXMACO. Begitu pula cap terbaru bagi James Riady dan Antony Salim.
Hanya beberapa minggu setelah pernyataan kerasnya di DPR akan memburu pelaku KKN, bahkan kawan kawan dekat Presiden RI waktu itu — berkaitan dengan “Kasus TEXMACO” — Jaksa Agung Baharuddin Lopa akhirnya “wassalam” secara misterius pula di Riyaad, Arab Saudi. Lha, apa pula kaitannya, kok Kepala BIN Saudi pun lalu dipecat?
Tidak diketahui kalangan PERS (cetak/elektronika) yang jujur di NKRI, beberapa minggu sebelum Jaksa Agung Lopa wafat, seorang Jaksa Senior menyatakan keinginan dapat bertemu dengan Big Boss grup itu. Lalu, suatu malam 29 Juni 2001, dilakukan “pertemuan rahasia” antara petinggi grup itu dan Tuan “X” (Jaksa senior itu?) di kawasan Kemang.
Tuan X dijemput tiga staf Kantor Pusat grup itu, menggunakan mobil tergolong mewah milik TEXMACO; dari satu lokasi “A” — ke lokasi “B”tentunya venue pertemuan rahasia di Kemang itu. Salah satu penjemput “tamu penting” itu, eks wartawan pula!
Kembali pada sesi terakhir Sidang Komisi itu dengan para petinggi TEXMACO 3 Juli 2002, ada keanehan yang layak dicermati dan dipertanyakan. Penulis duduk di kursi depan, sederetan dengan Presdir TEXMACO Sinivasan (hanya dibatasi dua eksekutif senior grup itu), berhadapan dengan deretan kursi Ketua Sidang & para deputi/sekretaris.
Pada posisi “jam 13.00″, di sisi kanan deretan kursi elit TEXMACO, terdapat deretan kursi anggota Komisi berhadapan dengan tempat anggota lain. Sidang sempat memanas, ketika seorang “Vokalis” muda PDIP anggota Komisi itu mencerca Sinivasan. Sinivasan pun sempat terbawa emosi, menyatakan diri juga punya harga diri. Nah, Lo!

Ketika Sidang sudah berlangsung sekitar 10 menitan, penulis melihat seorang anggota Komisi itu memasuki ruang Sidang, dan menempati deretan kursi anggota pada lokasi jam 13.00 itu. Cermati ini: anggota Dewan itu berperawakan tinggi besar, sekitar 178 – 180 cm, 80 – 90 kg, berkumis dan berpipi “tambun”.
Sekali lagi, akhir dari Sidang itu adalah “Case Closed”. Timbul teka teki di benak penulis. Seberapa besarkah, peran orang tinggi besar itu atas keputusan Sidang tsb? Mungkinkah telah terjadi “deal” antara orang itu mewakili Komisi, dan Sinivasan sebelum sesi terakhir Sidang itu? Bukan tidak mungkin. Simak pula yang berikut ini:
Kurang dari dua minggu sebelum Sidang sesi terakhir itu, di Lantai 10 Gedung SENTRA MULIA Kantor Pusat TEXMACO Group, penulis memergoki anggota Dewan itu tergopoh gopoh, buru buru turun ke Lobby menggunakan Lift di Lantai 10 gedung tsb. Sangat jelas, beyond any doubt, ia baru saja melakukan pertemuan khusus/penting dengan para petinggi TEXMACO di Lantai 10 SENTRA MULIA.
Draw your conclusion, simpulkan sendiri, kaitan antara kehadiran that fat bloke di Kantor Pusat TEXMACO dan keputusan akhir Sidang Komisi itu 3 Juli 2000.
Jika bertemu lagi atau melihat foto ybs di buku anggota DPR/MPR, penulis dapat mengidentifikasi — siapa sebenarnya orang tinggi besar berpipi tambun itu, dan dari Fraksi Parpol besar yang mana pula dia. And he is NOT a Jawa ko’ek! Profil mukanya mirip Patih Gajah Mada, bukan tipikal Jawa. You guys know what I mean?
Di Draft buku TEXMACOGATE, bersumber kader senior PDIP Wong Sumatra Utara, penulis ungkapkan indikasi kuat apa yang kemudian disebut “Tim Penjinak Laks”, terdiri segelintir elit Fraksi Parpol gede dari terutama “Geng” etnis North Sumatrans. Don’t you guys ignore, Mr. Sinivasan lahir dan dibesarkan di Medan. Connect the dot.
Episode 3 Juli 2000 di Senayan itu, dan kaitannya derngan kehadiran anggota Dewan itu di Kantor Pusat TEXMACO sekitar10 -15 hari sebelum Sidang Komisi tsb, merupakan bagian DRAFT buku penulis berjudul sementara, TEXMACOGATE: DIRTY TRICKS “R” US! The Deception Continues, Aided By Dishonest Government Officials; the “Press-Whores”; and Crooked Lawmakers. Paling tidak empat media cetak terkemuka (Harian, Tabloid mingguan & majalah mingguan) di NKRI pernah menyoal “Skandal TEXMACO” selama periode 2000 – 2001. Selama 2002, mereka membisu!
Bagaimana tanggapan Pemimpin Umum/Wakil Pemimpin Umum, dan PemRed ke-4 media cetak kondang itu — terhadap Draft buku yang didukung narasumber internal, saksi, dan saksi ahli serta dokumen otentik tentang berbagai bentuk praktik KKN; intimidasi dan TERORpisik terhadap beberapa “pentolan” buruh TEXMACO; dua aktivis Orsospol “Radikal Kiri” pembela hak buruh; dan Pengurus SPSI di Purwakarta? Seluruh Pem. Umum/Wakilnya dan PemRed media cetak terkemuka itu cuek bebek! Mereka SENGAJA memboikot upaya SAH pengungkapan “TEXMACOGATE” itu. Me, a lone nuts?
Apa yang memotivasi para jurnalis gaek itu sengaja memilih sikap membisu itu? Ada tiga kemungkinan: (1) Ketakutan luar biasa versus intimidasi para Pelindung elit TEXMACO; (2) mereka terkontaminasi oleh praktik suap (terkonfirmasi, ada upaya suap TEXMACO; baca di http://radio68H.or.id “Wartawan Mengembalikan Uang Suap dari TEXMACO” dan di “PIJAR” tentang “Makelar Makelar Ekonomi TEXMACO”); dan (3) takut “dilurug” LAGI oleh karyawan TEXMACO (kasus September 2000, atas Redaksi Harian kondang di Jakarta, menyusul berita-analis koran itu di rubrik Bisnis).
Inilah yang di A.S. disebut praktik tak terpuji di kalangan “mainstream media”, sebagai “swa-pemberangusan diri” vs. Whistleblowing sah — atas kasus kasus skandal besar yang diotaki kalangan Trans-National Corporations Barat, utamanya di Amerika.
Menyangkut kasus suap BPPN itu, Presiden Partai Keadilan Hidayat Nurwahid menyuarakan kegusarannya. Kepada reporter SCTV (Liputan Petang, Minggu, 29 September 2002), ia menyatakan kasus itu merupakan puncak gunung es (the tip of an iceberg) kasus suap lainnya, yang diyakini sudah membudaya di kalangan elit parpol di Senayan. Meskipun tidak seluruh anggota Dewan/Majelis berjiwa garong, DPR lebih tepat diartikan “Dewan Pendusta Rakyat,” “Dewan Pendusta nan Rakus!”
Maka, no wonder lah, sebagian besar petinggi PDIP – kecuali Kwik Kian Gie – “kebakaran jenggot”. Sebab, sekali lagi, manakala ada insan PERS yang masih punya nurani dan bernyali baja kemudian mengungkap tuntas kasus itu; bukan tidak mungkin bakal terbongkar kasus kasus suap lain — oleh pihak pihak selain BPPN — termasuk terhadap Komisi yang penulis sebut di depan, oleh GOD knows who.
Lantas, PERS mana pula yang masih dapat kita percaya? Tidak seluruhnya, tetapi persis yang berkembang di Amerika, sebagian kalangan media RI tidak lebih merupakan kumpulan “Media Circus”. FAKTA, ke-4 petinggi media cetak terkemuka NKRI irtu, yang SENGAJA bersikap cuek bebek terhadap Draft Buku TEXMACOGATE penulis.
Iri ‘kali mereka, sebab anak buah mereka – para reporters yang katanya jagoan – ternyata TIDAK MAMPU secara pro-aktif mengendus berbagai praktik KKN busuk, dan Pelanggaran HAM buruh di TEXMACO. Kok justru eks insider TEXMACO, si bekas diplomat mbeling ini yang menguaknya? Para jurnalis payah, bo.
Mereka pikir Penulis kini “mati kartu”, tidak telah “nembak” Draft itu ke pihak pihak lain di NKRI dan di manca negara? Salah besar Tuan Tuan! Sungguh pathetic dan moronic para jurnalis senior itu. Kelompok jurnalis gombal pendusta publik. “Pembela” wong cilik the voiceless, seperti mereka kecapkan selama ini, ternyata hollow claim yang awfully disgusting! Again, Dad was right: anak anakku JANGAN ada yang jadi wartawan!
Masih ingat pula, kasus “hedging” spekulasi main Valas (kerugian US$ 700 juta?) oleh sebuah bank pemerintah terkenal, menjelang akhir 1997? Seorang redaktur salah satu Harian terkemuka di Jakarta, sebut saja Polan, diberi dokumen otentik oleh PejabatSenior BI tentang ketidak-beresan petinggi bank yang main Valas itu.
Saat itu, November 1997 – Februari 1998, harga kertas koran impor (dikuasai kartel) sedang menggila. Seluruh media cetak NKRI sekarat, kecuali yang pakai kertas cetak lokal dan Harian besar yang dibanjiri iklan grup bisnis besar. Muncul “ide gila”, dalam obrolan makan siang, terhadap informasi klasifikasi A-1 itu, “Kita dapat memperoleh Rp. 2 Milyar dari elit Bank **** itu!”. Penulis nyeletuk, “Minta saja (kepada petinggi bank itu) stock kertas cetak enam bulan!” (Ya tahu, wong Penulis anaknya bekas publisher, bo).
Lalu timbul sedikit kericuhan internal, lebih dari satu Reporters secara terpisah mendatangi petinggi bank itu, dalam rangka cek-ricek kasus spekulasi Valas tsb.
Akhirnya disepakati, di dalam rapat redaksi Proyeksi Berita dan/atau Newsbugeting, kasus besar itu perlu diekspos dalam Headline (di majalah, COVER STORY atau Laporan Utama).
Menjelang SU MPR terakhir era Pak Harto, kasus besar tersebut siap diangkat di Headline koran tsb. Mungkin ada “bisikan dari langit”, sebelumnya Tuan Polan sudah memberikan fotokopi dokumen otentik dari BI itu, kepada mitranya seorang redaktur satu majalah mingguan kondang skala nasional.
Singkat ceritera, satu malam, Tim Redaksi koran besar itu sudah menyelesaikan tugas akhirnya (pra-cetak). Materi headline siap cetak (deadline cetak, sudah SOP, pk. 00.10 WIB). Apalacur, sekitar 23.00 WIB, seseorang – barangkali Redaktur Eksekutif – mendapat an urgent call Big Boss koran itu. Perintahnya singkat, “Batalkan headline!”.
Same, old story among some crooked media tycoons in the USA. Swa-bredel diri. Beberapa bulan kemudian, masih dalam sitkon Krismon melilit industri jasa media cetak, penerbit koran itu mampu meluncurkan tabloid mingguan baru. Dana dari mana? YAKUZA atau dari Bank “anu” itu? Ternyata …. I really feel sorry for this chap.
Sia sia swa-berangus diri itu, sebab majalah mingguan kawan Polan itu, beberapa minggu kemudian meng-expose kasus permainan Valas itu dalam Laporan Utamanya. Damn smart Polan, telah berbagi the only photocopy dokumen otentik itu. Bukan tidak mungkin pula, ke-4 petinggi media cetak terkemuka di atas (yang Penulis beri Draft TEXMACOGATE), kini memanfaatkannya pula untuk memeras elit TEXMACO, sebagai upaya busuk klasik “tahu sama tahu”. This author trusts NO more such Press-Whores.
Ngga’ percaya, kalau praktik memeras pebisnis kakap dilakukan juga oleh insan bisnis jasa informasi (digital-online maupun cetak)? Juni 2002, Penulis diberitahu seorang pebisnis jasa khas (bukan media cetak) di Jakarta, kawannya yakni wartawan tabloid sekaligus pengelola Website “panas” pembongkar praktik KKN telah nodong boss TEXMACO. Menurut nara sumber Penulis itu, Tabloid & Website wartawan itu berniat mengekspos (lagi) “Skandal TEXMACO”. Entah kasus baru yang mana, dan siapa pula narasumbernya, Penulis bertanya tanya sampai detik ini.
Menurut narasumber yang jasa khasnya laku keras itu, wartawan tabloid terkenal itu (kini nampaknya tidak terbit, tinggal yang Online) membatalkan NIAT membeberkan (lagi) Skandal TEXMACO; setelah ybs mendapat “hadiah” mobil Landcruiser dari big boss TEXMACO. Bukan tidak mungkin, wartawan itu juga mendapat “hadiah” sejumlah dana (minimal Rp. 200 juta) dari pebisnis kakap yang diperasnya itu.
Sebab, aneh bin ajaib dapetin dana segar dari Situs Purbakala yang mana, ujug ujug jurnalis mata duwitan itu mampu membangun bisnis WARNET di Selatan Jakarta (bukan Jakarta Selatan). Sanggupkah anda membangunnya, hanya dengan dana Rp. 150 juta? No way, man! WARNET kelas sepoor klutuk dengan “pulsa” kuda, ya mampulah!
NKRI memang negeri penyamun dan maling. Banyak PNS & Non-PNS berjiwa maling, ada pula segelintir wartawan berjiwa pelacur, dan tidak sedikit yang berjiwa serupa di kalangan elit Parpol besar dan kecil — di dan di luar Senayan.
Ndak percaya? Baca laporan terkini BPK bulan ini, berapa Trilyun rupiah dana negara yang ditilep garong di kalangan PNS. Silahkan baca pula, revisi ke-4, Opini Penulis INDONESIAKU: NEGERI PENYAMUN DAN MALING, Surat Terbuka Kepada Y.M. Presiden Hj. Megawati Soekarnoputri. Megawati dan suaminya, TK, telah Penulis kirim Opini tersebut, Sabtu petang, 24 Agustus 2002.
Reaksi mereka? BIG ZERO. Cuek bebek pula. Kecuali, surat rahasia Penulis kepada beliau disabot salah satu staf Presiden NKRI dan/atau asisten TK di Rumah Dinas Presiden RI di Jalan Teuku Umar No. 27A, Menteng. Sebab ketika surat tsb Penulis antarkan sendiri ke alamat itu, Presiden dan TK sedang menghadiri latihan perang TNI AL di Perairan Laut Jawa. Sungguh tidak masuk akal salah satu asisten terdekat presiden dan suaminya, apalagi seorang ajudan, telah berbuat jahat menyabot surat pribadi Penulis.
Atau memang SOP, di kalangan “inner circle” (lebih lebih dari unsur non-sipil) seluruh Presiden RI, yaitu HARUS MENYABOT seluruh surat pribadi warganegara kepada presidennya? Tak kampleng tenan, kalau Penulis tahu pelakunya! Tapi, sekali lagi, sungguh mustahil seorang AJUDAN melakukan tindakan tercela macam itu.
Berbeda dengan para ajudan Presiden Soeharto, yang merupakan Pamen pilihan selektif beliau sendiri (di-groom jadi calon pemimpin TNI/TNI AD, bahkan menjadi Wapres), nampaknya salah satu adjudan Presiden Megawati sengaja dipasang (bukan oleh Presiden Megawati) untuk “mengawasi” dari dekat “manuver” Megawati dan TK. Is this the case? Embuh, ora ngerti aku.
Simak kengototan Megawati mendukung Sutiyoso menjabat lagi Gubernur DKI. Megawati tersandera TNI? Siapa yang telah nodong Megawati? Take the presidency, Your Excellency; cuma sampai 2004 saja, ya? ‘kali itu deal-nya.
Kindly refer to my INDONESIAKU: NEGERI MALING. Banyak kalangan Wong Cilik di Jabotabek, juga di Jawa Tengah, sudah capek berat punya presiden wong sipil. Mereka merindukan era Pak Harto, sitkon gampang cari uang, aman, dsb. Some people agree, next president seyogyanya eks jenderal TNI (lagi) saja. SBY kah?
Kembali pada kasus suap oleh BPPN di depan dan indikasi sangat kuat praktik suap lain oleh elit TEXMACO, the TRUTH shall prevail. Sejauh menyangkut TEXMACOGATE, tunggu tanggal mainnya Insya’allah. Penulis “dilenyapkan” pun tidak akan menghentikan proses expose draft buku itu – yaitu oleh pihak “independent invesigators” non-print media NKRI dan di manca negara.
Penulis akan tambahkan di dalam Draft Buku TEXMACOGATE, nama empat media cetak dimaksud. Sebab mereka sengaja menutup mata dan telinga terhadap “Skandal TEXMACO”. Skandal megatrilyun rupiah, yang melibatkan tidak cuma praktik suap, KKN, penipuan atas konsumen, “Mark Up” costs & komponen, dll – melainkan juga unsur baru pelanggaran HAM terhadap buruhnya, aktivis SPSI, orsospol “pembela” keterpurukan kaumburuh dhuafa (baca: TEROR pisik!).
SAY THE THE TRUTH, NOTHING BUT THE TRUTH! Kalau elit PDIP tetap bersikap Asal Ibu Senang, justru mengintimidasi kadernya yang berani mengungkapkan praktik suap; maka bersiaplah tangisan kucing menyaksikan “Banteng Beri Beri” masuk kotak pada PEMILU 2004. Mayoritas unsur bangsa besar (tapi keropos) ini, kaum buruh dan tani dhuafa (did I sound a bit Komunistik? C’mon, man; read my previous Postings), mereka DO NOT NEED Banteng Loyo lagi yang udeh lupe daratan.
Tuan Tuan, Nona Nona dan Ibu Ibu besar di PDIP (nyuwun ngapunten,Pakde Tardjo) catat ini: “Mas Yusuf, wis PDIP bakal kalah 2004. Sebab ORA mikiri wong cilik. Lha piye, digawekke dalan karo Pak Harto bae, ora becus ngopeni!” (sebagian di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta); “Pak, kite tidak mau nyoblos PDIP lagi, dll. Bohong semua! Kite mau GOLPUT aje! (sebagian Jabotabek, termasuk Bogor).
Turbalah kalian, selama reses, naik bis bis PATAS atau antarkota/antarpropinsi TANPA AC. Jelajahi wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat, yang kini meranggas, kering kerontang — mau b****k pun susah cari air bersih! STOP politicking kalian di Jakarta, cengengesan di lobi lobi 5-Star hotels, makan steakdan dimsum melototin cewek cewek muda-stw sintal pula! Seporsi imported steak yang kalian lahap (<Rp. 100 ribuan), cukup untuk menghidupi satu keluarga di desa desa wilayah itu selama 20 hari!
How DARE you people, ngecap terus bicara soal moralitas! Lihat pula barak barak POLRI/Brimob/TNI – pengap, setiap hari bini dan anak anak mereka jadi mangsa nyamuk! Kalian? Molor, cengengesan, di Rumah Dinas Kalibata yang ber-AC, GRATISAN! Ngga’ bayar Pajak Pendapatan Pribadi pula! Gitu kok ‘brani ‘braninya gemagus, cengengesan, menepuk dada melulu sebagai Wakil Rakyat! Sungguh pathetickalian (tidak seluruhnyalah, yang bernurani masih ada – cuma, some are gagu dan bahkan bisu).

Wassalam.

Yusuf bin Jussac

** mantan diplomat RI (mengundurkan diri setelah 15 tahun “mengabdi”); penerima Penghargaan Ka-POLRI sebagai “Penulis Artikel Terbaik Tahun 1998, Mengenai Masalah Kepolisian”, MENYOAL “PENCULIK MISTERIUS”, Harian MEDIA INDONESIA, edisi 12-13 Mei 1998. Judul aseli MENYOAL “POLISI JELEK” DAN PENCULIK MISTERIUS, tetapi diganti Redaktur Eksekutif koran itu sehingga judul dan materi tidak sinkron.

Disesuaikan oleh Agung, dipublikasikan dengan persetujuan Mr Joe Jussac langsung. Dipublikasikan di blog ini sebagai tambahan wacana atas konspirasi, terutama tentang keberanian untuk menjadi vokal dan berdasar. Lampiran artikel berbahasa Inggris berjudul THE MURDER OF JOHN F. KENNEDY, Jr karya Sherman H. Skolnick sengaja tidak dimuat disini, karena anda bisa search sendiri by Google. Aslinya dimuat di http://groups.google.com/group/alt.culture.indonesia/msg/1945f2bb8f2f5b54?

One thought on “NASIB PARA “VOKALIS” ALIAS WHISTLEBLOWERS

  1. MALAPETAKA HUKUM DI INDONESIA

    Putusan PN. Jakarta Pusat No. 551/Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan demi hukum atas klausula

    baku yang digunakan Pelaku Usaha.Putusan ini telah dijadikan putusan rujukan/ yurisprudensi pada

    26 Juni 2001.
    Sebaliknya yang terjadi di Surakarta.
    Putusan PN Surakarta No. 13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan pasal-pasal Klausula Baku untuk

    menolak gugatan. Putusan ini sekaligus sebagai “cover” bagi dugaan suap Rp. 5,4 jt untuk

    pengurusan surat NO.B/3306/IX/2005/Reskrim di Polda Jawa Tengah (serta dugaan pelanggaran jaminan

    fidusia dan penggelapan lainnya yang dilakukan Pelaku Usaha)
    Inilah salah satu penyebab malapetaka hukum di negeri ini. Namun tidak perlu khawatir karena pada

    dasarnya bangsa ini memang jenis bangsa pecundang, yang hanya mampu tirakat, prihatin – maksimum

    menghimbau. Biarlah masalah seperti ini kita wariskan saja kepada cucu-cicit kita

    Catur Danang,
    email : prihatinhukum@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s